TENAGA HONORER K2, KABUPATEN NABIRE PAPUA TENGAH, UNJUK RASA

Aksi Spontan unjuk rasa tenaga Honorer Kab Nabire, Papua Tengah. (Foto : Agus/Johar)

 

PORTAL-3.Com ; Puluhan Tenaga Honorer Kategori 2 (K2) melakukan aksi spontan di Badan Kepegawaian Dan Pengembangan Sumber Daya Manusia(BKPSDM)Kabupaten Nabire, Papua Tengah, Kamis (21/5).  “Aksi Spontanitas  Tenaga Honorer Kategori 2 (K2), ini, karena kami mempertanyakan adanya Ketidakjelasan hasil rekrutmen aparatur sipil negara (ASN) tahap 1 dan 2″ ujar  Piet Nabod Auwae selaku Koordinator aksi di hadapan sekitar 50 orang peserta aksi ini.

Pada kesempatan itu, peserta diterima Fanelda Wona.S.Sos (Bendahara BKPSDM Kabupaten Nabire) dan Kompol.Dr.Peter Kendek.S.H.MH (Kabg Ops Polres Nabire)

Diperoleh katerangan,  tuntutan tenaga  honorer yang disampaikan Piet Nabod Auwae,  menyatakan ketidakpuasan terhadap proses penyerapan tenaga honorer yang dinilai tidak transparan dan tidak melibatkan informasi resmi secara tertulis kepada mereka. ” Kami sudah mengikuti tahapan CAT tahap I sejak tahun lalu, namun sampai hari ini belum ada kejelasan hasil. Sementara, kami justru melihat adanya proses penyerapan tenaga kerja lain tanpa pemberitahuan resmi. Ini tidak mencerminkan sikap pemerintah yang seharusnya menjadi contoh bagi masyarakat”, tandasnya.

Aksi spontan tenaga honorer Kab Nabire, tuntut transparansi. (Foto : agus/sambo)

Disamping itu, pihaknya juga menyoroti munculnya Surat Keputusan (SK) Nomor 80, yang berisi 57 nama yang dinyatakan diterima, namun sebagian besar nama nama tersebut tidak dikenali oleh komunitas tenaga honorer. Hal ini menimbulkan dugaan adanya penyimpangan dalam proses seleksi. “Kami menemukan nama-nama yang bukan tenaga honorer, dan kami tidak tahu siapa mereka. Padahal, pemerintah menyebut sistem rekrutmen ini berbasis digital dan otomatis menyaring pelamar. Kenyataannya tidak sesuai dan menanyakan pemerintah terkait efisiensi anggaran sebagai hambatan utama namun di sisi lain, terdapat penyerapan tenaga kerja melalui jalur THK2 yang dianggap tidak transparan” ujar Piet Nabod  .

Rencananya, para pengunjuk rasa akan menemui Bupati Nabire, namun tidak berhasil.

Dari pantauan lapangan, massa bergerak ke  depan RRI Nabire, mencoba untuk menghalangi kendaraan yang di gunakan Bupati Nabire, untuk menyampaikan aspirasi namun tidak berhasil, katena massa di halangi oleh Satpol PP dan Kepolisian

Dari keterangan beberapa sumber di lapangan, diperoleh informaai massa meminta berdialog dengan Bupati Nabire yang sedang melaksanakan kegiatan di RRI Nabire, akan tetapi bupati tidak berkenan menemui massa setelah acara selesai dan langsung meninggalkan tempat. “Kami menuntut hak kami sebagai honorer, sedangkan yang baru masuk sudah diangkat menjadi PNS Kabupaten Nabire, kan tidak transparan” ujarnya. >>> ( AG/SAMBO/JOHAR)