CANDI BOROBUDUR, DIBANGUN OLEH “BUYUTE WONG JEPARA”

 

PORTAL-3.Com ; Sudah diketahui oleh khalayak,  bahwa Candi Borobudur dibangun oleh Wangsa Syailendra pada abad ke VII masehi.  Namun belum ada yang mengkaji lebih dalam, siapa wangsa syalenda dan darimana asalnya.  Syalinedra. Adalah buyut dari  Ratu Shima, dari Kerajaan Kalingga yang berlokasi di kawasan Keling (sekarang) lereng gunung Muria bagian utara , termasuk wilayah Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

Lokasi pegunungan Muria tersebut, sebagai lokasi pusat Kerajaan Kalingga, sejalan dengan konsep spiritualisme Hindu-Buddha yang memiliki orientasi pada tempat-tempat yang tinggi (gunung) yang dipercaya sebagai tempat sakral. Gunung menurut pemahaman Hindu-Budha juga dipercaya sebagai tempat penghubung antara manusia dengan para dewa atau kekuatan adi-kodrati. Sehingga ada kesamaan atau titik temu antara spiritual Hindu-Buddha dengan kepercayaan asli lokal jawa (aliran kapitayan) sebelum masa Hindu-Buddha masuk dan berkembang di Jawa, yang sama-sama menganggap gunung sebagai tempat yang ‘dekat dengan nirwana’.

Candi Borobudur, dibangun oleh ahli ukir patung dan ahli ukir relung, yang sampai sekarang “wong nJepara” ahli dalam mengukir patung, relief dan relung.  (Foto : istimewa)

Dari berbagai teori, kiranya dapat diajukan suatu hipotesa, bahwa asal usul Wangsa Syailendra berasal dari kepulauan Nusantara, terutama pulau Sumatra atau Jawa, dan bukan berasal dari India Selatan, sebagai tanah air asal usul dari wangsa syailendra.

Teori ini mengajukan pemahaman bahwa Wangsa Śyailendra ada kemungkinan berasal dari Sumatra yang kemudian berpindah dan berkuasa di Jawa, atau kemungkinan lain Wangsa Syailendra asli dari pulau Jawa tetapi mendapatkan pengaruh kuat dari Kerajaan Sriwijaya.

Sebagaimana pendapat dari beberapa sejarawan, ada yang berpendapat keluarga Śailēndra berasal dari Sumatra yang bermigrasi ke Jawa Tengah, setelah Sriwijaya melakukan ekspansi ke tanah Jawa pada abad ke-7 Masehi, dengan menyerang kerajaan Tarumanagara dan Kalingga di Jawa. Serangan Kerajaan Sriwijaya atas Jawa, dapat dilihat berdasarkan atas ‘Prasasti Kota Kapur’ yang mencanangkan ekspansi atas Bumi Jawa yang tidak mau berbhakti kepada Kerajaan Sriwijaya. Gagasan atau teori itu didasarkan atas sebutan gelar Dapunta Selendra pada ‘prasasti Sojomerto’. Gelar ini juga ditemukan pada ‘prasasti Kedukan Bukit’ pada nama Dapunta Hiyaŋ. ‘Prasasti Sojomerto’ dan ‘prasasti Kedukan Bukit’ merupakan prasasti yang berbahasa Melayu Kuno.

Seperti dikemukakan oleh Poerbatjaraka, yang didasarkan atas ‘Carita Parahiyangan’ kemudian diperkuat dengan sebuah temuan prasasti di wilayah Kabupaten Batang. Dimana di dalam prasasti yang dikenal dengan nama ‘prasasti Sojomerto’ itu, disebutkan nama Dapunta Selendra, nama ayahnya (Santanū), nama ibunya (Bhadrawati), dan nama istrinya (Sampūla) (da pū nta selendra namah santanū nāma nda bapa nda bhadrawati nāma nda aya nda sampūla nāma nda ..).

Sementara itu menurut Boechari, tokoh yang bernama Dapunta Selendra adalah cikal bakal raja-raja keturunan Śailēndra yang berkuasa di Jawa dan Sumatra.

Dari catatan pada prasasti tersebut, dapat diketahui nama Dapunta Selendra jelas merupakan ejaan Melayu, dari kata dalam bahasa Sanskerta ‘Śailēndra”. Karena di dalam prasasti digunakan bahasa Melayu Kuno, maka dapat ditarik suatu kesimpulan (awal) kalau keluarga Śailēndra bukan berasal dari India Selatan yang lazimnya  mereka memakai bahasa Sanskerta di dalam prasasti-prasastinya.

Dengan ditemukannya ‘prasasti Sojomerto’ telah diketahui asal keluarga Śailēndra dengan pendirinya Dapunta Selendra. Berdasarkan paleografinya, ‘prasasti Sojomerto’ berasal dari sekitar pertengahan abad ke-7 Masehi

Masih menurut Poerbatjaraka, Sanjaya dan keturunan-keturunannya itu ialah raja-raja dari keluarga Śailēndra, asli Nusantara yang menganut agama Saiwa. Tetapi sejak Rakai Panangkaran berpindah agama menjadi penganut Buddha Mahayana, raja-raja di Matarām (kuno) menjadi penganut agama Buddha Mahayana juga. Pendapat itu didasarkan atas Carita Parahiyangan yang menyebutkan bahwa Sanjaya menyuruh anaknya Rakai Panangkaran dan Rakai Panaraban (atau Tamperan Barmawijaya) untuk berpindah agama karena agama yang dianutnya (aliran Saiwa) ditakuti oleh semua orang. Kabar mengenai Rakai Panangkaran yang berpindah agama dari penganut Saiwa menjadi Buddha Mahayana juga sesuai dengan isi “Prasasti Raja Sankhara” (koleksi Museum Adam Malik, yang kini hilang).

Candi Borobudur, jadi tempat pemujaan agama Budha, seiring dengan sisa-sisa budaya, yang sampai saat sekarang di sekitar kecamatan Keling-Jepara, dimana kerajaan Kalingga berada, masih banyak penganut agama Budha. (Foto : Istimewa)

Seperti disebutkan di dalam ‘Prasasti Canggal’, bahwa Sanjaya mendirikan sebuah lingga di bukit Sthīrańga untuk tujuan dan keselamatan rakyatnya. Dari peristiwa pendirian Lingga tersebut, terinspirasi dari kebiasaan nenek moyangnya yang biasa mendirikan lingga untuk seuatu keperluan. Sehingga bukan tidak mungkin, dari kebiasaan mendirikan lingga tersebut. wilayah yang dikuasai kemudian dikenal dan diberi nama  dengan nama “Kerajaan Kalingga”.

Disebutkan pula dalam naskah ‘Carita Parahyangan’ bahwa Sanjaya memerintah Jawa menggantikan ayahnya yaitu Raja Sanna; Raja ketiga Kerajaan Galuh yang mempunyai saudara perempuan bernama Sannaha (putri Ratu Parwati dari Kerajaan Kalingga) yang kemudian dikawininya dan melahirkan Sanjaya

Dari ‘prasasti Sojomerto’ dan ‘prasasti Canggal’ telah diketahui nama tiga orang penguasa di Jawa, yaitu Dapunta Selendra, Sanna, dan Sanjaya.

Sanjaya mulai berkuasa di Kerajaan Medang (cikal bakal kerajaan Mataram) pada tahun 717 – 746 Masehi. Dari “Carita Parahiyangan” dapat diketahui bahwa Sanna berkuasa di Kerajaan Galuh 709 – 716 Masehi (selama 7 tahun).

Kalau Sañjaya naik takhta pada tahun 717 Masehi, maka Sanna naik takhta sekitar tahun 709 Masehi. Hal ini berarti untuk sampai kepada Dapunta Selendra (pertengahan abad ke-7 Masehi) masih ada sisa sekitar 60 tahun. Kalau seorang penguasa memerintah lamanya kira-kira 25 tahun, maka setidak-tidaknya masih ada 2 penguasa lagi untuk sampai kepada Dapunta Selendra.

Seperti disebutkan dalam ‘Carita Parahyangan’ disebutkan bahwa Sanna putra dari Rahyang Mandiminyak. Ia memegang pemerintahan di Galuh selama 7 tahun, dan Rahyang Mandiminyak diganti oleh Sanna yang memerintah 7 tahun.

Dari urutan raja-raja yang memerintah itu, dapat diduga bahwa Mandimiñak mulai berkuasa sejak tahun 702 Masehi. Ini berarti masih ada 1 orang lagi yang berkuasa sebelum Mandimiñyak.

Tidak banyak diketahui, komposisi batuan di candi Borobudur, disamping dari batu fulkanik (yang mudah diukir dan dibentuk) juga terdapat batuan andesit (yang keras, dipakai sebagai pondasi dan sebagian pelataran atas candi). Batuan andesit ini, banyak terdapat di sekitar pegunungan Muria, dimana kerajaan Kalingga berpusat.  (Foto : Istimewa)

Sebagaimana teori Poerbatjaraka berdasarkan ‘Carita Parahiyangan” , maka keluarga Śailendra diduga berasal dari pulau Jawa yang berada di bawah pengaruh Sriwijaya. Tokoh Sanna dan Sanjaya berkaitan erat dengan sejarah Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh (cikal bakal kerajaan sunda dan pajajaran) dan Kerajaan Medang (cikal bakal kerajaan mataram kuno). Mereka pada awalnya beragama Saiwa seperti kebanyakan keluarga kerajaan permulaan di pulau Jawa seperti Tarumanagara dan Kalingga.

Penggunaan bahasa Melayu Kuno pada ‘prasasti Sojomerto’ di Jawa Tengah serta penggunaan ‘gelar Dapunta’ menunjukkan bahwa keluarga Sailendra telah dipengaruhi bahasa, budaya, dan sistem politik Sriwijaya. Hal ini menimbulkan dugaan kuat bahwa mereka adalah vasal atau Perdikan anggota kedatuan Sriwijaya. Hal ini seiring dengan kabar penaklukan Bumi Jawa oleh Sriwijaya sebagaimana disebutkan dalam ‘Prasasti Kota Kapur’.

Berita yang berasal dari masa Dinasti Tang memberitakan tentang Kerajaan Kalingga yang disebut She-po (Jawa). Pada tahun 674 Masehi, rakyat kerajaan itu menobatkan seorang wanita sebagai ratu, yaitu Hsi-ma (Ratu Sima). Ratu ini memerintah dengan baik, bijaksana dan menghantarkan kejayaan kerajaan Kalingga.

Mungkinkah Ratu Shima ini merupakan pewaris tahta dari Dapunta Selendra ? Apabila ya, maka diperoleh urutan raja-raja yang memerintah di Jawa, yaitu Dapunta Selendra (?- 674 Masehi), Ratu Shima (674-703 Masehi), Ratu Parwati (695-709 Masehi), Raja Sanna (709-716 Masehi), Sanjaya (717-746 Masehi), Rakai Panangkaran (746-784 Masehi), dan seterusnya.

Jika demikian yang terjadi, maka dapat disimpulkan (sementara)  bahwa Raja Sanjaya sebagai penguasa yang membangun Candi Borobudur, adalah anak dari Raja Sanna. Cucu dari Ratu Parwati dan buyut dari Ratu Shima Raja Kalingga-Jepara. oleh karenanya, sangat mungkin dan dapat dinyatakan jika Candi Borobodur, dibangun oleh Buyute Wong Jepara.

Mari kita diskusikan kebenarannya >>>(disarikan dari berbagai sumber, oleh HER ITOK SUSANTO)