KERAJAAN KALINGGA, PUNYA ‘WONG NJEPORO’ YANG NYARIS TERLUPAKAN

PORTAL-3.COM ; Terdapat jejak masa lalu, yang hingga sekarang masih diselimuti misteri, karena belum banyak digali dan diungkap ke purmakaan, adanya kerajaan besar di pesisir utara Jawa yang tersembunyi walau menggambarkan kemegahan dan kemasyhuran sebuah kerajaan yang pernah berjaya, yaitu Kerajaan Kalingga.
Kerajaan Kalingga konon menjadi salah satu pusat peradaban pada masa Hindu klasik di Indonesia. Sejarah Kerajaan Kalingga pun masih menjadi bahan dan wacana penelitian yang sampai sekarang masih berselimutkan misteri.
Meski tidak sepopuler kerajaan-kerajaan besar lainnya, seperti Ketajaan Majapahit atau Sriwijaya, namun Kerajaan Kalingga memiliki peran penting dalam perkembangan peradaban di Nusantara.
Dengan pengaruh budaya Hindu yang kuat, kerajaan ini dikenal akan kejayaannya yang dicapai di bawah kepemimpinan seorang ratu yang legendaris, bernama Ratu Shima.

Berikut, disajikan sekelumit sejarah Kerajaan Kalingga, yang dihimpun dari berbagai sumber, diantaranya dari buku Ensiklopedia Sejarah Lengkap Indonesia dari Era Klasik Sampai Kontemporer oleh Adi Sudirman, buku Sejarah SMA/MA Kelas XI-Bahasa oleh H Purwanta dkk, juga disarikan dari Ensiklopedia Sejarah Kerajaan Nusantara Seri I oleh Aloysius Fernandi, serta Genealogi kerajaan Islam di Jawa oleh Peri Mardiono seperti dikutip oleh detik.com
Kerajaan Kalingga, yang juga dikenal dengan nama Ho-ling atau Holing, didirikan pada sekitar abad ke-5 Masehi. Berdasarkan catatan sejarah, kerajaan ini merupakan kerajaan bercorak Hindu-Buddha yang pertama kali muncul di pantai utara Jawa Tengah atau di lereng utara pegunungan Muria.
Meskipun tidak ditemukan bukti yang jelas mengenai pendirian dan tempatnya, ada beberapa sumber yang menyebutkan bahwa pendirinya adalah Dapunta Syailendra, yang berasal dari dinasti Syailendra, bertempat di lereng utara Gunung Muria atau di sepanjang pesisir Laut Jawa.
Kerajaan Kalingga mencapai masa keemasan, saat dipimpin oleh Ratu Shima ini, diketahui berdiri hampir bersamaan dengan berdirinya Kedatuan Sriwijaya, Kerajaan Sunda, dan Kerajaan Galuh serta kerajaan Medang pada abad ke-6 Masehi.
Diketahui juga, Kerajaan Kalingga memiliki hubungan erat dengan China dan India serta Persia. Hal tersrbut yang tercermin dari pengaruh budaya dan agama yang masuk ke wilayah Kalingga Pura.

Kerajaan Kalingga memiliki sejumlah raja yang memimpin sebelum akhirnya Ratu Shima mengambil alih tahta dan membawa kerajaan ini ke puncak kejayaannya. Raja pertama yang tercatat dalam sejarah adalah Prabu Wasumurti yang memerintah dari tahun 594 hingga 605 M.
Setelah kematiannya, tahta dilanjutkan oleh Prabu Wasugeni, yang memerintah hingga tahun 632 M. Selama periode ini, beberapa nama raja tercatat memimpin kerajaan, termasuk Prabu Wasudewa, Prabu Wasukawi, dan Prabu Kirathasingha.
Pada tahun 674 M, Ratu Shima, yang juga dikenal dengan nama Dewi Wasuwari, menggantikan suaminya, Prabu Kirathasingha, setelah beliau wafat.
Ratu Shima dikenal sebagai pemimpin yang sangat tegas dan bijaksana, yang membawa Kalingga ke masa kejayaan dan kemasyhuran.
Berikut adalah daftar raja-raja yang pernah memimpin Kerajaan Kalingga :
Prabu Wasumurti (594-605 M)
Prabu Wasugeni (605-632 M)
Prabu Wasudewa (632-652 M)
Prabu Kirathasingha (632-648 M)
Prabu Wasukawi (652 M)
Prabu Kartikeyasingha (648-674 M)
Ratu Shima. Dewi Wasuwari (674-695 M)
Kerajaan Kalingga diperkirakan berada di sekitar wilayah pantai utara Jawa Tengah di lereng utara Gunung Muria, tepatnya saat sekarang dikenal di daerah sekitar Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara Jawa Tengah.
Kerajaan Kalingga juga sering disebut dengan nama Holing, yang berasal dari sebutan dalam bahasa Tiongkok. Wilayah kekuasaan Kerajaan Kalingga diperkirakan membentang antara Kabupaten Pekalongan hingga Kabupaten Jepara, saat ini.
Walau demikian, hingga sekarang letak pasti pusat pemerintahan Kerajaan Kalingga, masih belum dapat disimpulkan dengan akurat, karena kurangnya bukti sejarah yang jelas dan belum petnah dilakukan penelitian dengan seksama. Namun, berdasarkan sumber-sumber asing, terutama dari Tiongkok, wilayah Kalingga dikenal memiliki hubungan kuat dengan para pendeta yang datang ke Nusantara pada masa itu. Hal ini juga menunjukkan pengaruh budaya dan agama yang signifikan dari China, sehingga layak untuk dikaji adanya sisa sisa peninggalan budaya china di daerah yang diduga sebagai peninggalan kerajaan Kalingga.
Pada masa kejayaannya, Kerajaan Kalingga dipimpin oleh Ratu Shima pada tahun 674 M. Ratu Shima dikenal sebagai pemimpin yang sangat tegas, adil, dan bijaksana. Pemerintahannya didasarkan pada hukum yang ketat, dengan peraturan yang harus dipatuhi oleh semua rakyatnya tanpa terkecuali.
Salah satu peraturan yang terkenal adalah hukuman potong tangan bagi siapa saja yang mencuri. Disamping itu. Ratu Shima juga terkenal karena keberaniannya dalam menegakkan hukum, meskipun harus menghukum putranya sendiri yang melanggar aturan. Selain itu, peraturan potong tangan bagi pencuri inipun, bisa menjadi pembahasan tersendiri, karena adanya pengaruh hukum islam di Kerajaan Kalingga, yang berdiri hampir bersamaan dengan awal-awal hadirnya agama Islam di jasirah Arab.
Kerajaan Kalingga juga dikenal memiliki lembaga pendidikan yang maju, dengan banyak pendeta dari luar kerajaan seperti dari China dan India. yang datang ke Kerajaan Kalingga. untuk belajar agama Buddha di kerajaan ini.
Pada masa pemerintahan Ratu Shima, kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya, ditandai telah dikuasainya pengetahuan dan ketrampilan di bidang pertanian, sehingga rakyat hidup makmur dan tenteram. Keberhasilan ini juga didukung oleh hubungan internasional yang baik dengan negara-negara seperti China. India dan Persia serta kawasan lain lintas samudra.

Kerajaan Kalingga mulai mengalami kemunduran setelah wafatnya Ratu Shima pada tahun 695 M. Kepemimpinan yang semakin lemah dan persaingan dagang dengan Kerajaan Sriwijaya serta pembagian wilayah kekuasaan kepada ke-dua anak Ratu Shima, menjadi faktor utama keruntuhan kerajaan Kalingga.
Pada masa kejayaannya, Kerajaan Kalingga menguasai jalur perdagangan hampir di seluruh pesisir pantai utara Jawa, hal tersebut membuat kerajaan Sriwijaya di Sumatra merasa iri dan ingin mengusai. Dengan kedudukan Kerajaan Sriwijaya yang maju dan sedang berkembang, Kerajaan Sriwijaya berkeinginan untuk menguasai seluruh jaringan perdagangan di Nusantara. Hal ini menyebabkan konflik antara kedua kerajaan, dan Sriwijaya akhirnya menyerang Kalingga.
Diduga, akibat serangan Kerajaan Sriwijaya tersebut, membuat semakin melemahkannya Kerajaan Kalingga, dan kebijakan Ratu Kalinyamat menjadikan Kerajaan Kalingga menjadi dua kerajaan untuk kedua anaknya, yakni kerajaan Galuh (di Jawa Barat, sebagai cikal bakal kerajaan Sunda dan Pejajaran) dan kerajaan Medang Kamulan (di Jawa Tengah, sebagai cikal bakal kerajaan Mataran Kuno), yang akhirnya membuat Kerajaan Kalingga kehilangan kekuasaannya dan mulai menghadapi kehancurannya, sekitar tahun 755-742 M,
sejumlah peninggalan dan prasasti yang menunjukkan adanya jejak peninggalan Kerajaan Kalingga dapat diketahui melalui berbagai peninggalan, diantaranya :
1. Prasasti Tukmas
Prasasti Tukmas ditemukan di lereng barat Gunung Merapi, tepatnya di Dusun Dakawu, Desa Lebak, Kecamatan Grabag, Magelang, Jawa Tengah. Prasasti ini menggunakan aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta. Pada prasasti ini, terdapat tulisan yang menyebutkan tentang mata air yang bersih dan jernih. Aliran sungai yang keluar dari sumber air tersebut diibaratkan sama dengan Sungai Gangga di India.
Selain tulisan, prasasti ini juga dihiasi dengan gambar-gambar seperti trisula, kendi, kapak, kelasangka, cakra, dan bunga teratai. Semua lambang ini menggambarkan hubungan antara manusia dengan dewa-dewa Hindu. Hal ini menunjukkan pengaruh Hindu yang kuat dalam kerajaan Kalingga, meskipun ada juga pendapat yang menyebutkan pengaruh Buddha di kerajaan tersebut.
2. Prasasti Sojomerto
Prasasti Sojomerto ditemukan di Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Prasasti ini menggunakan aksara Kawi dan bahasa Melayu Kuno serta diperkirakan berasal dari abad ke-7 Masehi. Bahan yang digunakan untuk membuat prasasti ini adalah batu Andesit dengan ukuran yang cukup besar. Prasasti ini berisi tentang keluarga dari tokoh utama, Dapunta, termasuk ayahnya, Santanu, ibunya, Bhadrawati, dan istrinya, Sampula.
Prasasti ini juga mencatatkan Dapunta Syailendra sebagai tokoh penting yang kemudian menjadi cikal bakal raja-raja keturunan Wangsa Syailendra di Kerajaan Mataram Kuno. Meskipun Prasasti Sojomerto lebih terkait dengan sejarah awal Wangsa Syailendra, keberadaannya memberikan informasi tentang hubungan dinasti-dinasti yang ada pada masa itu di wilayah Jawa Tengah.
3. Candi Angin
Candi Angin ditemukan di Desa Tempur (di atas dukuh Duplak) Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Candi ini terletak di daerah yang sangat tinggi dan dinilai unik karena tidak roboh meskipun diterpa angin kencang, sehingga disebut dengan Candi Angin. Beberapa ahli memperkirakan bahwa candi ini lebih tua dari Candi Borobudur, bahkan ada yang menduga bahwa candi ini dibangun pada masa purba, jauh sebelum pengaruh Hindu-Buddha hadir di wilayah tersebut.
Candi Angin memiliki ciri khas yang berbeda dengan candi-candi Hindu atau Buddha yang dikenal pada umumnya. Keberadaannya menunjukkan bahwa kawasan pegunungan Muria utara, Jawa Tengah pada masa itu sudah berkembang dan berhubungan erat dengan kebudayaan Hindu Siwaisme, serta hubungan dagang yang luas dengan negara lain, lintas samudta. Hal ini juga memberi gambaran bahwa kerajaan Kalingga memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan agama Hindu di wilayah tersebut dan juga hubungan transportasi laut yang kuat.
4. Candi Bubrah
Sama seperti Candi Angin, Candi Bubrah juga ditemukan di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, di dekat Candi Angin. Meskipun candi ini kini hanya tersisa reruntuhan batu dengan tinggi mencapai 2 meter. Candi Bubrah memiliki nilai sejarah yang penting. Candi ini merupakan bagian dari kompleks percandian –seperti halnya candi Prambanan dengan beberapa candi di sekitarnya–, meskipun saat ditemukan hanya tersisa bagian-bagian candi dengan batu-batu berbentuk persegi, yang sebagian besar sudah rusak.
Candi Bubrah dikenal dengan adanya arca Buddha meskipun bentuknya sudah tidak utuh lagi. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan ini pernah menjadi pusat agama Buddha pada masa tersebut. Penemuan candi ini memperkuat bukti bahwa Kerajaan Kalingga memiliki pengaruh dalam penyebaran agama Hindu dan Buddha di Jawa Tengah pada masa itu.
5. Situs Puncak Sanga-Likur (puncak 29),
Peninggalan terakhir Kalingga adalah Situs Puncak Sanga Likur yang terletak di puncak Gunung Muria, sisi sebelah barat laut tepatnya di Puncak Rahtawu, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Di situs ini ditemukan empat arca batu yang masing-masing bernama Arca Batara Guru, arca Narada, arca Togog, dan arca Batara Wisnu. Keberadaan arca-arca ini memperlihatkan pengaruh kuat agama Hindu di wilayah Kalingga pada masa tersebut, meskipun jalan menuju puncak rahtawu sangat terjal dan sulit, itu menjukkan adanya tekat kuat masyarakatnya untuk hidup bergotong royong guna mencapai suatu tujuan.
Selain arca, di kawasan Puncak Sanga Likur juga ditemukan enam tempat pemujaan yang diberi nama tokoh pewayangan. Penemuan ini menunjukkan bahwa di puncak gunung tersebut, pernah menjadi tempat yang sakral dan digunakan untuk upacara keagamaan.
Balai Arkeologi Yogyakarta juga menemukan Prasasti Rahtawu di kawasan ini pada tahun 1990, yang semakin memperkuat bukti bahwa Gunung Muria merupakan situs penting bagi kerajaan Kalingga dan pengembangan kemajuan ilmu pengetahuan pada masa itu, dimana banyak orang dari luar Kerajaan Kalingga yang datang untuk menimba ilmu dan melakukan prosesi keagamaan.
Mari kita pelajari dan diskusikan, sehingga sejarah keemasan Kerajaan Kalingga tidak hilang dan lenyap begitu saja, karena ketidak-pedulian kita terhadap kekayaan budaya dan sejarah masa lalu Jepara. >>>(Her Susanto)






