HARI KEBANGKITAN NASIONAL, BANGKITNYA DARI GAGASAN “WONG nJEPORO”

PORTAL-3.Com : Tanggal 20 Mei, secara nasional diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Peringatan Hari Besar Nasional tersebut ditandai munculnya kesadaran dan kebangkitan bangsa terjajah di era kolonialisme terhadap kemerdekaan sebagai suatu bangsa yang merdeka, yang digerakkan oleh Ormas atau perserikatan BOEDI OETOMO, SAREKAT ISLAM dan perserikatan INDISCHE PARTIJ di era kolonialisme.
Indische Partij sendiri dikenal sebagai perserikatan yang sangat vokal menentang kolonialisme Belanda. Dimana perserikatan Indische Partij ini didirikan oleh “Tiga Serangkai” yang salah satunya adalah “Wong nJeporo”.
Kok bisa, bagaimana ceritanya ??
Tiga Serangkai adalah sebutan bagi tiga tokoh pendiri organisasi Indische Partij (IP). Organisasi ini didirikan pada masa awal kebangkitan nasional, beberapa tahun setelah kemunculan organisasi Boedi Oetomo (Budi Utomo).
Menurut Buku Sejarah Kemdikbudristek, awal abad ke-20 , menjadi titik mula munculnya berbagai organisasi politik di Indonesia dengan tumbuhnya kesadaran nasionalisme.
Di antara organisasi tersebut yang cukup dikenal adalah Budi Utomo, Sarekat Islam, dan Indische Partij.
Masing-masing organisasi memiliki tokoh penting yang berperan besar dalam membangkitkan semangat nasionalisme rakyat Indonesia dari tirani penjajahan.
Salah satu kelompok tokoh yang hingga kini dikenal luas adalah Tiga Serangkai, yang mendirikan Indische Partij dan menjadi pelopor gerakan politik yang secara terbuka menentang penjajahan dan kolonialisme Belanda, adalah TIGA SERANGKAI, seperti dikutip news.detik.com.
Siapa Saja Tokoh Tiga Serangkai?
Tokoh-tokoh yang termasuk dalam Tiga Serangkai adalah: Douwes Dekker (yang kemudian dikenal dengan nama Danudirja Setiabudi), dr. Cipto Mangunkusumo, dan Suwardi Suryaningrat atau yang lebih dikenal dengan Ki Hajar Dewantara. Ketiganya bersama-sama mendirikan Indische Partij pada tahun 1912.
Berikut profil singkat ketiga tokoh pendiri Indische Partij tersebut, seperti dikutip dari Ensiklopedia Sejarah Indonesia (ESI):
1. Ernest Francois Eugene (E.F.E) Douwes Dekker, yang sering dipanggil Ernest Douwes Dekker, adalah tokoh pergerakan nasional yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melalui pendirian Indische Partij.
Ia dikenal vokal menentang kolonialisme Belanda dan berperan penting membangkitkan kesadaran nasional rakyat Hindia Belanda.
Ernest Douwes Dekker lahir di Pasuruan, Jawa Timur pada 8 Oktober 1879 dan meninggal di Lembang pada 28 Agustus 1950. Ia adalah keturunan Indo-Eropa dan adik dari penulis terkenal Multatuli (Eduard Douwes Dekker), pengarang buku Max Havelaar.
2. Ki Hajar Dewantara, adalah tokoh pendidikan dan nasionalisme yang mendirikan perguruan Taman Siswa. Ia juga dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia yang memperjuangkan pendidikan bagi rakyat pribumi pada masa kolonialisme
Lahir dengan nama Raden Mas Suwardi Suryaningrat di Kadipaten Paku Alam, Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889, dan meninggal di Yogyakarta pada 26 April 1959. Ia berasal dari keluarga bangsawan Paku Alam. Suwardi menempuh pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS) dan Kweekschool Yogyakarta, serta sempat bersekolah di sekolah kedokteran STOVIA, Batavia.
3. dr. Cipto Mangunkusumo adalah dokter sekaligus aktivis kemerdekaan yang turut mendirikan Indische Partij.
Ia dikenal atas perjuangannya dalam meningkatkan kesadaran politik rakyat terjajah dan mendorong terwujudnya kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajahan, di era kolonialisme.
Cipto Mangunkusumo lahir pada tanggal 4 Maret 1886 di Pecangaan, Jepara Jawa Tengah dan meninggal pada 8 Maret 1943 di Jakarta.
Berasal dari keluarga terpandang di Jepara, Jawa Tengah. Sang ibu bernama RA. Suratmi berasal dari keluarga bangsawan Jepara, sementara ayahnya, Mangunkusumo, adalah pejabat pemerintahan di era Kolonialisme Belanda.
Cipto Mangunkusumo menempuh pendidikan kedokteran di STOVIA, Batavia (sekarang Jakarta) dan aktif melakukan berbagai kegiatan untuk memompa semangat kebangsaan di kalangan masyarakat terjajah dan terpinggirkan du era kolonialisme.
Sehingga, kiranya dapat diketahui dan dapat ditarik suatu kesimpulan, semangat perjuangan untuk meraih kemerdekaan dengan kesadaran nasionalisme, awal mulanya diantaranya berangkat dari pemikiran, perjuangan dan gagasan dr. Cipto Mangunkusumo, beliau adalah “Wong nJepara”.>>>(Her Susanto)





