“BEDHOL KRAJAN” KERATON KARTOSURO, JADILAH KERATON SUROKARTO

- Beteng Kartosuro, saat sekarang jadi cagar budaya. (Foto : istimewa)
PORTAL-3.COM , Tidak banyak yang tahu, lebih-lebih generasi muda sekarang, bagaimana Keraton Surakarta sekarang, berdiri megah di tengah tengah kota Surakarta. Seperti diungkapkan KRT Koesrahadi S Jayaningrat dalam Jejak Sejarah Mataram, diterangkan sebelum meninggalkan Kraton Kartasura, Sri Susuhunan Pakubuwana II didampingi Permaisuri, naik ke Pendopo Sitihinggil dan berkata bahwa sepindahnya beliau ke Kraton Surakarta maka nama Kartasura dikembalikan lagi menjadi “Wanakerta” .
Wanakerta lama kelamaan berubah menjadi hutan belantara dan dipenuhi dengan berbagai hewan liar termasuk ada banyak menjangan yang berkembang biak dihutan tersebut.
Pada tahun 1811 Sri Susuhunan Pakubuwana IV berkenan berkunjung ke Petilasan Kraton Kartasura, kemudian Beliau memerintahkan para abdi dalem Kraton Surakarta untuk bekerja membersihkan pepohonan lebat di dalam bekas Kraton Kartasura tersebut. Beliau juga memerintahkan kepada para abdi dalem untuk memindahkan sekelompok Rusa / menjangan ke hutan Krapyak dan akhirnya hutan Krapyak tersebut dinamakan “Kandang Menjangan”.
Akhirnya Setelah semuanya bersih, Sri Susuhunan Pakubuwana IV berkenan meditasi di atas Gundukan tanah yang dahulunya adalah ruang utama dan pribadi Raja Kartasura.
Setelah selesai meditasi , Sri Susuhunan Pakubuwana IV memerintahkan untuk memberi tanda bahwa dahulunya ruangan tersebut adalah ruangan penting Raja, tanda tersebut berupa sepasang bongkahan batu yang bentuk dan ukurannya sama. Kelak pada masa Sri Susuhunan XII pada tanah bekas ruangan Raja tersebut dipasang lantai dari batu alam.
Pada tahun 1816 ada salah seorang abdi dalem yaitu Mas Ngabehi Sukareja wafat, kemudian oleh Sri Susuhunan Pakubuwana memerintahkan supaya jenasah Sukorejo dimakamkan di Petilasan Kraton Kartasura. Sejak saat itu Petilasan Kartasura digunakan untuk pemakaman keluarga / kerabat Sinuwun.
Pada tahun Sri Susuhunan Pakubuwana X memerintahkan untuk membangun masjid dan masjid tersebut diberi nama “Masjid Hastana”.
Adapun punggawa keraton yang dimakamkan di Komplek Kraton Kartasura diantaranya RM Sarjana, RAj Naisbandiyah putri PB VII, RM Budiman, Mas Ayu Sukarsih garwa ampil PB IV, R Ranggakusuma garwa ampil PB V, RAy Tejaningsih garwa ampil PB VII, R Candraningsih garwa ampil PB VII, R Tejaningsih garwa ampil PB VII, RAy Tejaningrum garwa ampil PB IX, RAy Retno Adiningrum garwa ampil PB IX, RAy Tasikwulan garwa ampil PB IX, RAy Dewa Asmara garwa ampil PB IX, RAy Asmara Wulan garwa ampil PB IX, RAy Murtiningrum garwa ampil PB IX, R Adp Sedah Mirah garwa ampil PB IX, RAy Wredaningrum garwa ampil PB IX, RAy Esmuningrum garwa ampil PB IX, R Daya Purnama garwa ampil PB IX, R Maniklungit garwa ampil PB IX, R Ambar Sirat garwa ampil PB IX, R Rantan sari garwa ampil PB IX, R Daya sari garwa ampil PB IX, R. Gantangsari garwa ampil PB IX, R Rondhonsari garwa ampil PB IX, Mas Ngabehi Sukorejo, G.P.H Panular putra Amr IV, Ki Dalang Nyoto Carito, K.P. Pandji Suryaningrat putra Sunan PBV, K.P.P Cakradiningrat, putra K.P.P Suryaningrat dari garwa B.R.Ay Suryaningrat putri Sunan PB VII, GPH Panular, Pangeran Mloyokusumo, K.P.Pandji Mloyomiluhur, K.P.H Adinegoro.>>>>(itok)






