WALIMATUL NAQI’AH, PROSESI TASYAKURAN KEPULANGAN HAJI

Menara zam-zam, tepat di depan pintu masuk Masjidil Haram, menjadi lokasi yang penuh kenangan bagi jemaah haji, selain tempat- tempat bersejarah lain di Mekah dan Madinah. (Foto : Her)

 

PORTAL-3.COM ; Sebagai bentuk rasa syukur atas kembalinya dari Tanah Suci dengan selamat, usai menjalankan rangkaian ibadah haji, ada tradisi yang yang lazim dilakukan oleh jemaah haji, acara tasyakuran yang dikenal dalam istilah keislaman disebut walimatul naqi’ah. 

Seperti dikutip dari laman resmi Kementerian Agama RI, walimatul naqi’ah merupakan jamuan makan atau perjamuan untuk menyambut kedatangan musafir, dalam hal ini jemaah haji yang baru pulang dari Mekah dan Madinah.

Tradisi ini menjadi momen sakral sekaligus sosial, yang bermanfaat untuk mempererat tali silaturahmi dan menumbuhkan semangat keberagamaan di tengah masyarakat. Kegiatan ini, tidak sekadar seremonial semata, tapi walimatul naqi’ah sarat akan nilai sosial dan spiritual. Karena di dalamnya ada kegiatan doa bersama, sambutan dari tokoh agama, hingga jamuan makan menjadi bagian tak terpisahkan dari rangkaian acara.

Tujuannya tasyakuran ini, tidak lain adalah untuk  bersyukur kepada Allah atas keselamatan dan kesempatan berhaji, menguatkan hubungan sosial antarwarga dan menghidupkan semangat menjaga kemabruran haji serta memadukan ajaran agama dengan budaya lokal, tulis HIMPUHNEWS

Susunan acara Walimatul Naqi’ah biasanya dimulai dari doa pembuka, dilanjutkan tausiyah atau sambutan singkat oleh tokoh agama, kemudian dilanjutkan dengan jamuan makan dan ditutup dengan pembagian oleh-oleh khas haji seperti air Zamzam, kurma, atau tasbih.

Menuerut pendapat dari sejumlah ulama, selain menjadi wujud syukur, tradisi ini juga menjadi sarana jamaah berbagi kisah spiritual dan pengalaman selama berhaji, yang kerap memberi inspirasi bagi keluarga dan tetangga yang hadir, untuk berniat dan berikhtiar agar bisa ziarah ke Mekah dan Madinah.

Dari pemahaman tersebut, walimatul naqi’ah tak hanya menjadi penutup perjalanan haji secara simbolik, tapi juga pembuka bagi babak baru dalam kehidupan jamaah—untuk menjaga kemabruran, meningkatkan amaliah dan berbagi nilai-nilai kebaikan, dan tetap rendah hati setelah menjadi tamu Allah.. >>> (HS)