PENGERAN SAMBERNYAWA, 250 KALI PENYERBUAN PERANG TAK TERKALAHKAN

Makan Pangeran Sambernyawa. (Foto : istimewa)

PORTAL-3 , Nama Pamgeran Samber Nyawa, khalayak di Jawa Tenhah, sudah tidak asing lagi. Beliau adalah Sosok yang ditakuti Belanda kala itu, kare a setidaknya dalam Perang 250 kali tidak pernah kalah

Di atas salah satu puncak bukit di lereng Gunung Lawu, tepatnya di daerah Matesih, Karanganyar, angin pegunungan berembus membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Di sinilah terletak Astana Mangadeg, tempat peristirahatan terakhir seorang ksatria legendaris tanah Jawa, Raden Mas Said, atau yang lebih dikenal sebagai Pangeran Sambernyawa.

Ketika kita pertama kali menginjakkan kaki di kompleks makam ini, suasananya langsung berubah drastis. Riuh pikuk kota seakan lenyap, digantikan oleh kesunyian yang begitu pekat dan magis. Untuk sampai ke pusara utama, kita harus berjalan kaki menanjak, menapaki ratusan anak tangga batu kuno yang diselimuti lumut hijau.

Di kanan dan kiri jalan, pohon-pohon besar yang sudah berumur ratusan tahun berdiri kokoh seperti raksasa yang sedang berjaga. Setiap langkah terasa begitu sakral. Ditambah lagi, aroma wewangian bunga ziarah dan lamat-lamat suara lantunan doa yang berkumandang, membuat siapa pun yang datang otomatis akan melangkah dengan khidmat dan penuh rasa hormat.

Menariknya, bukit yang sunyi ini dulunya bukan sekadar tempat pemakaman biasa. Jauh sebelum beliau wafat, tempat terpencil inilah yang dijadikan markas rahasia dan tempat bertapa Raden Mas Said.

Di sinilah beliau menenangkan pikiran dan menyusun taktik pertempuran yang kelak membuat ciut nyali para penjajah Belanda.

Cerita perjuangan beliau sendiri sebenarnya berawal dari rasa sakit hati dan keprihatinan.

Lahir di Kartasura pada tahun 1725, Raden Mas Said muda melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana rakyat kecil ditindas oleh kompeni Belanda (VOC), sementara lingkungan dalam istana justru sibuk berkompromi dengan penjajah demi jabatan.

Di usia yang masih sangat muda, beliau memilih keluar dari kenyamanan istana dan masuk ke dalam hutan untuk mengangkat senjata.Nah, dari sinilah julukan “Sambernyawa” itu lahir. Nama yang mengerikan itu bukan beliau sendiri yang membuatnya, melainkan pemberian dari musuh bebuyutannya, Nicholas Hartingh, seorang pejabat tinggi VOC. Belanda menjulukinya demikian karena di medan perang, Raden Mas Said bergerak secepat kilat dan sangat mematikan. Kehadirannya di medan laga benar-benar seperti petir yang siap menyambar dan mencabut nyawa pasukan musuh tanpa ampun.

Selama 16 tahun bergerilya di dalam hutan dan naik-turun gunung, Pangeran Sambernyawa mencatatkan sejarah yang hampir mustahil dinalar: beliau memimpin pasukan kecilnya bertempur sebanyak 250 kali, dan luar biasanya, tak satu pun dari pertempuran itu berakhir dengan kekalahan telak.Bayangkan saja, beliau dan laskar kecilnya yang serba kekurangan harus dikeroyok oleh tiga kekuatan raksasa sekaligus secara bergantian: tentara modern VOC yang bersenjata lengkap, pasukan Kasunanan Surakarta, dan pasukan Kasultanan Yogyakarta. Namun, dengan taktik gerilya yang amat lihai—hari ini menyerang di timur, besok tiba-tiba muncul di barat—beliau berhasil mengobrak-abrik ribuan tentara musuh. Belanda bahkan sempat frustrasi dan menganggap Pangeran Sambernyawa memiliki kesaktian spiritual yang membuatnya tidak bisa disentuh oleh peluru.

Karena kewalahan dan sadar bahwa Sang Pangeran tidak akan pernah bisa ditundukkan dengan mesiu, Belanda akhirnya menyerah dan memilih jalur damai. Melalui Perjanjian Salatiga pada tahun 1757, beliau akhirnya diakui sebagai penguasa berdaulat dan mendirikan istananya sendiri, Kadipaten Mangkunegaran, dengan gelar Mangkunegara I.Ada satu pesan terakhir beliau yang sangat menyentuh hati sebelum wafat pada tahun 1795. Beliau melarang keras anak cucunya untuk melukis atau menggambar wajah aslinya. Beliau tidak ingin dirinya dikultuskan atau dipuja secara berlebihan oleh generasi setelahnya. Itulah mengapa, jika kamu pergi ke istananya di Solo atau berziarah ke makamnya di Mangadeg, kamu tidak akan pernah menemukan satu pun foto atau lukisan wajah asli sang pencabut nyawa Belanda ini. Beliau ingin dikenang lewat semangat perjuangannya, bukan lewat rupa wajahnya.

Kisah perjuangan beliau yang luar biasa ini tentu tidak lepas dari prinsip hidup yang beliau tanamkan kepada pasukannya.

Kalau kita tertarik, kita bisa mengulik tentang Falsafah Tri Dharma, yaitu tiga prinsip sakti yang membuat pasukannya begitu setia dan tak terkalahkan.>>>(dari berbagai sumber/HS)