SUMUR MINYAK RAKYAT, DIJUAL KE PERTAMINA DENGAN POLA BAGI HASIL

    Pertambangan minyak tanah, secara tradisional dikelola dengan pola bagi hasil. (Foto : istimewa)

PORTAL-3 ; Pemerintah Desa Soko Kecamatan Jepon Kabupaten Blora, Jawa Tengah, belum lama melakukan Musyawarah Desa (Musdes) Pembagian Hasil Pengelolaan Sumur Minyak Rakyat dengan hasil mufakat terkait skema pembagian keuntungan antara pemerintah desa, pemilik lahan, investor dan paguyuban pengelola.

Kepala Desa Soko Mulyono di Blora,  mengatakan perbedaan pandangan dalam musyawarah merupakan hal yang wajar karena keputusan yang diambil harus mengakomodasi berbagai kepentingan, mulai dari pemilik lahan, pengurus hingga paguyuban. “Kegiatan ini salah satunya untuk memenuhi persyaratan pengajuan kerja sama atau nota kesepahaman (MoU) dengan PT Mataram Connection Nusantara (MCN),” katanya.

Dari hasil musyawarah tersebut menjadi dasar penyusunan MoU dengan PT MCN sebagai pihak yang menjembatani pengiriman minyak rakyat ke Pertamina.

Berdasarkan kesepakatan yang dicapai, investor atau pemilik sumur minyak rakyat memperoleh porsi sebesar 50 persen dari keuntungan bersih. Pemilik lahan mendapatkan 18 persen, paguyuban pengelola 27 persen dan 5 persen dialokasikan untuk Pendapatan Asli Desa (PADes).

Mulyono mengatakan keberadaan sumur minyak rakyat diharapkan memberikan kontribusi terhadap pendapatan desa yang selama ini belum memperoleh PADes dari sektor tersebut. “Adanya sumur rakyat ini diharapkan bisa menambah kesejahteraan warga dan menyerap tenaga kerja lokal,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Perkumpulan Penambang Minyak Sumur Masyarakat Soko, Mardi, mengatakan kenaikan harga minyak mentah global pada pekan kedua Juni 2026 yang mencapai sekitar Rp9.100 per liter membawa dampak positif bagi pengelolaan sumur minyak rakyat di Desa Soko, seperti dikutip “Antara”

Menurut dia, tren kenaikan harga tersebut berpotensi meningkatkan pendapatan yang selama ini bergantung pada hasil produksi minyak tradisional.

Saat ini, pengelola telah mengirimkan minyak mentah ke Pertamina melalui PT MCN sebanyak 35 tangki dengan kapasitas masing-masing 5.000 liter atau total sekitar 175.000 liter. Dari jumlah tersebut, sekitar 10 tangki masih dalam tahap uji coba (trial) di Pertamina. “Setelah dikurangi biaya operasional, keuntungan yang diperoleh dibagikan kepada investor sumur rakyat yang ada di Desa Soko,” katanya.

Mardi menjelaskan Desa Soko memiliki 202 titik sumur rakyat yang telah diverifikasi dan terdaftar di Pertamina. Dari jumlah tersebut, sekitar 100 sumur masih aktif berproduksi.

Produksi minyak dari sumur rakyat bersifat fluktuatif karena dipengaruhi kondisi lapangan. Dalam kondisi tertentu, pengambilan hasil produksi dilakukan setiap dua hingga tiga hari sekali dengan produksi minimal mencapai 5.000 liter.

Selain memberikan manfaat bagi investor, kata dia lagi, aktivitas sumur rakyat juga menjadi sumber penghidupan masyarakat sekitar. Tercatat sekitar 105 pekerja terlibat dalam kegiatan produksi yang dibagi dalam tiga shift, masing-masing terdiri atas 35 kelompok kerja. “Keberadaan sumur rakyat selama ini menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat di wilayah penghasil minyak tradisional. Kenaikan harga minyak dunia diharapkan mampu meningkatkan pendapatan warga yang terlibat dalam rantai produksi minyak rakyat, mulai dari pekerja hingga investor lokal,” ujarnya.>>>(ep/sis/HS)